Whatsapp: +6281392472500 (English) / 0813 7222 2565 (Indonesia) terapibatam@gmail.com

Bangunan serba papan itu terselip di antara rumah-rumah “megah” di Kampung Tua, Kampung Melayu, Kecamatan Nongsa. Dilapisi cat cokelat berpadu sedikit lis putih dan kuning, membuatnya tidak dapat mencuri pandang orang-orang yang melintas. Terlebih lagi ia dibangun tidak tepat di pinggir jalan perkampungan, beberapa batang pohon kelapa dan semak menutupinya.

1
Sunyi, sepi dan hampa tergambar dari luar rumah panggung tersebut, meski perkarangannya tertata rapi dengan rumput Jepang dan sejumlah bunga lili merah dan kuning sedang mengembang.
“Walaupun ditulis obyek wisata, tak pernah ada wisatawan yang datang kemari, paling yang datang hanya anak-anak sekolah aje,” buka Abdul Rasjid, pelestari dan penjaga Rumah Melayu itu.
Pria yang akrab disapa Pak Long ini, sudah turun-temurun menjadi penjaga Rumah Melayu di bawah koordinasi Dinas Pariwisata dan Kebudaaan Pemerintah Kota Batam. Sebelumnya, rumah tersebut dijaga oleh H. Sain (almahrum), ayah dari Pak Long.
“Tak ade ape-ape di dalam, hanya ada pelaminan dan empat patong orang kawin saje,” lanjut Pak Long sembari membuka pintu kayu dan mempersilahkan masuk.
Karpet merah terbentang menyambut kami di ruang depan berukuran 2 x 5 meter, memang tak ada apa-apa di ruangan ini. Selanjutnya ruang tengah, nah, di sini baru terdapat dua pelaminan khas Melayu berhadap-hadapan, dengan kain berwarna hijau, kuning dan merah terjuntai dari atas hingga bawah. Di atas pelaminan itu duduk dua patung berbalut baju Melayu pria dan wanita yang didampingi oleh dua patung lagi.
“Inilah empat patung tu, patung pengantin, kalau yang ini tempat-tempat untuk nepung tawar,” kata pria yang sudah mulai bungkuk itu menjelaskan beberapa mangkok yang tersusun di atas nampan tepat di depan patung.
“Listrik ade, tapi balon lampu die yang tak ade, jadi agak gelap siket,” celetuk Pak Long sambil melangkah ke ruang berikutnya dan membuka daun jendela.
Ruangan selanjutnya sedikit lebih besar, ruang itu dijelaskan Pak Long lazimnya digunakan sebagai ruangan makan, kamar tidur dan dapur. Tak hayal ada sebuah ranjang ber kelambu di sana, di lantai tengah ada tudung saji pandan berbentuk kerucut. “Di sinilah biasanya tempat makan, orang dulu makan di lantai, tak pernah pakai meja, jadi makan siket pun dah terase kenyang,” katanya sembari tersenyum.
Sebuah tungku kayu tepat berada di depan pintu belakang, dua buah panci bertengger di atasnya. “Kayak ginilah kompor jaman dulu, mane ade kompor gas kaya sekarang. Kalau nak masak kena tiup-tiup dulu sampai nyala aipnya,” kenang Pak Long sambil memperagakan cara menghidupkan api dan meniup bara dari kayu yang telah terbakar.
Cerita Pak Long kegiatan tersebut dilakoninya waktu ia masih kanak-kanak, kalau sekarang tentunya dia telah menggunakan kompor dengan bahan bakar gas berukurang tiga kilo, anjuran dari pemerintah.
“Budak-budak mana bise hidupkan tungku nie, sekarang enak, nak masak tinggal tekan aje, kalau dulu kami nak makan kena hidupkan tungku, kalau tak pandai alamat tak makanlah,” ujarnya.
Tak ada kamar mandi di dalam rumah itu, hanya 2beberapa kendi tempat penyimpanan air minum yang belum dimasak tersusun di pojok belakang. Menurut Pak Long, rumah zaman dulu memang tak memiliki kamar mandi di dalam, kalau mau mandi atau buang hajat mesti pergi ke perigi atau sumur yang letaknya beberapa meter di belakang rumah.
“Semua rumah Melayu zaman dulu seperti itu, makanya rumah ini pun kamar mandinya ada di luar, tapi tak ada periginya,” ungkap Pak Long.
Rumah Melayu ini dijelaskannya bukanlah rumah adat. Ia hanyalah penggambaran sebuah rumah Melayu pada zaman dahulu yang terbuat dari papan dan beratap seng. Lantainya pun tak jejak ke tanah, ada tiang-tiang panggung menyangga.
Rumah ini dibangun sejak tahun 1958 dan selesai tepat 1 Januari 1959. Itu sebabnya di atas pintu mauk rumah ada angka 111959, angka yang menunjukkan rumah tersebut selesai dibangun dan siap untuk dilestarikan.
Dikatakan Rumah Limas Potong karena atapnya berbentuk limas, namun tidak sempurna, sebab bagian sampingnya dipotong membentuk segitiga sama sisi.
“Sekarang jarang kite jumpe atap seperti ini, orang dah pakai yang gampang-gampang aje, tinggi di depan, rendah di belakang, jadi tak pakai bumbong tinggi lagi, bisa hemat bahan,” ujarnya sembari menunjuk ke atap-atap rumah penduduk yang ada di sekitar daerah situ.
Rumah Melayu Limas Potong yang ada saat ini pun sudah beberapa kali mengalami perbaikan, yang terakhir menurut Pak long perbaikan dilakukan pada tahun lalu, namun sayang papan dan kayu yang digunakan tak semuanya baru, sehingga rapuh dan penuh lubang dimakan rayap.
Rumah Melayu Limas Potong, merupakan obyek wisata yang tak pernah dikunjungi oleh wisatawan, padahal seiap tahunnya sekitar 1,4 hingga 1,5 juta wisatawan yang berkunjung ke Batam. Kurang giatnya pemerintah mempromosikan tempat-tempat wisata budaya, membuat para wisatawan itu menghabiskan uang mereka ke mal-mal atau ke tempat-tempat hiburan dunia malam dan pinti pijat yang menawarkan failitas plus-plus.
Andai saja pemerintah mewajibkan semua agen travel singgah di obyek-obyek wisata budaya di perkampungan-perkampungan penduduk, maka meningkat jugalah kesejahteraan penduduk tersebut. Mereka tentunya dapat membuat juadah khas Melayu, kerajinan-kerajinan tangan dan pertunjukan-pertunjukan kesenian yang dapat dijual dan dipertontonkan kepada para wisatawan.
Mudin salah seorang warga Kampung Melayu, Batu Besar menyayangkan minimnya keseriusan Pemerintah Kota Batam dalam mengangkat dan memperkenalkan kebudayaan Melayu kepada wisatawan.
Ia mencontohkan Pulau Samosir yang terletak di tengah-tengah Danau Toba di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Pemerintahnya gencar mempromosikan pertunjukan kesenian dan adat istiadat di daerah tersebut. Berbagai fasilitas berupa rumah adat, panggung pertunjukkan pun dibangun.
Di dalam rumah adat terdapat ratusan jenis peralatan yang digunakan oleh masyarakat setempat sejak dari zaman dahulu hingga sekarang.
“Tidak seperti di sini, namanya saja rumah Melayu, obyek wisata, tapi tak tahu apa yang mau dilihat, tak ada yang mencerminkan sejarah Melayu di dalam rumah itu, wajar kalau travel tak mau singgah, tak ada yang bisa dijual,” katanya.
Padahal kata Mudin, kalau saja pemerintah serius membangun Kampung Melayu Batua Besar ini sebagai salah satu obyek wisata, wisatawan pasti sangat senang berkunjung ke sini. Karena situasi di Kampung Melayu Batu Besar maih tergolong alami, pemukiman penduduknya, adat istiadatnya masih terjaga, alam dan pantainya mendukung.
“Saya yakin, yang seperti inilah yang diinginkan wisatawan, karena mereka berkunjung ke kempat kita ini untuk beristirahat, melepakan penat, jadi kita harus memberikan suasana yang nyaman dengan hiburan-hiburan tradisonal yang tak pernah mereka dapatkan di tempat-tempat lain,” jelasnya.
Mudin menilai pemerintah hanya berpihak kepada para pengusaha kapitalis yang memonopoli perdagangan di Batam. Pengusaha-pengusaha yang menciptakan “kampung-kampung” tiruan dengan segala pernak-pernik kebudayaan KW yang disuguhkan. Hal ini justru akan merugikan batam, karena wisatawan yang berkunjung menjadi kurang puas, dan hal itu akan menyebar dari mulut ke mulut, sehingga Batam secara perlahan akan ditinggalkan oleh wisatawan.
“Perkenalkanlah kebudayaan yang sebenarnya, sehingga pengunjung pun senang dan akan kembali lagi ke Batam, karena ada kerinduan di diri mereka akan hal-hal yang eksotik yang tak mereka dapatkan di tempat lain,” tutupnya.(novianto)

Sumber: http://jembia.com

Comments