Whatsapp: +62813-9247-2500 (English) / 0813 7222 2565 (Indonesia) terapibatam@gmail.com

Mengingat begitu pentingnya matematika bagi setiap individu, masyarakat, dan bangsa. Maka judul artikel ini akan menjadi menarik, apalagi setiap orang akan memiliki jawaban yang mungkin sama namun mungkin juga berbeda.

Peran Penting Matematika                                                                                                                                      Delapan belas tahun lalu, NRC (National Research Council, 1989:1) dari Amerika Serikat telah menyatakan pentingnya Matematika dengan pernyataan berikut: “Mathematics is the key to opportunity.” Matematika adalah kunci ke arah peluang-peluang. Masih menurut NRC, bagi seorang siswa keberhasilan mempelajari matematika akan membuka pintu karir yang cemerlang. Bagi para warganegara, matematika akan menunjang pengambilan keputusan yang tepat. Bagi suatu negara, matematika akan menyiapkan warganya untuk bersaing dan berkompetisi di bidang ekonomi dan teknologi. Meskipun demikian, ada pengakuan tulus juga dari para pakar pendidikan matematika (NRC, 1989:3) bahwa sesungguhnya kemampuan membaca jauh lebih penting dan lebih mendasar dari matematika.

Matematika sebagai Ilmu Pasti?
Matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathema yang berarti ‘belajar atau hal yang dipelajari’, sedang dalam bahasa Belanda disebut wiskunde atau ‘ilmu pasti’. Di Indonesia, matematika pernah disebut ilmu pasti. Mengapa ia disebut ilmu pasti? Jawaban pertanyaan terakhir berkait dengan istilah penalaran (reasoning). Memang benar bahwa jika dibandingkan dengan teorema IPA, teorema matematika sedikit lebih pasti atau kebenarannya lebih absolut karena ada faktor pembuktian secara deduktif. Itulah sebabnya, pada zaman dahulu matematika disebut ilmu pasti. Pertanyaan yang dapat diajukan sekarang adalah: “Apakah benar teorema matematika memiliki nilai kebenaran yang pasti (absolutism)?” Untuk menjawabnya, yang perlu diperhatikan, suatu bangunan matematika akan runtuh jika terdapat sifat, dalil, atau teorema yang diturunkan dari aksioma ada yang saling bertentangan (kontradiksi).

Beberapa kompetensi atau kemampuan yang menurut De Lange (2004:12) harus dipelajari dan dikuasai para siswa selama proses pembelajaran matematika di kelas adalah:

  1. Berpikir dan bernalar secara matematis (mathematical thinking and reasoning)
  2. Berargumentasi secara matematis (mathematical argumentation). Dalam arti memahami pembuktian, mengetahui bagaimana membuktikan, mengikuti dan menilai rangkaian argumentasi, memiliki kemampuan menggunakan heuristics (strategi), dan menyusun argumentasi.
  3. Berkomunikasi secara matematis (mathematical communication). Dapat menyatakan pendapat dan ide secara lisan, tulisan, maupun bentuk lain serta mempu memahami pendapat dan ide orang lain.
  4. Pemodelan (modelling). Menyusun model matematika dari suatu keadaan atau situasi, menginterpretasi model matematika dalam konteks lain atau pada kenyataan sesungguhnya, bekerja dengan model-model, memvalidasi model, serta menilai model matematika yang sudah disusun.
  5. Penyusunan dan pemecahan masalah (problem posing and solving). Menyusun, memformulasi, mendefinisikan, dan memecahkan masalah dengan berbagai cara.
  6. Representasi (representation). Membuat, mengartikan, mengubah, membedakan, dan menginterpretasi representasi dan bentuk matematika lain; serta memahami hubungan antar bentuk atau representasi tersebut.
  7. Simbol (symbols). Menggunakan bahasa dan operasi yang menggunakan simbol baik formal maupun teknis.

Alat dan teknologi (tools and technology). Menggunakan alat bantu dan alat ukur, termasuk menggunakan dan mengaplikasikan teknologi jika diperlukan.

Bagaimana Pembelajarannya?                                                                                                                         Depdiknas (2006:388) telah menyatakan bahwa mata pelajaran matematika di SD, SMP, SMA, dan SMK bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efesien, dan tepat dalam pemechan masalah
  2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
  3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
  4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Dengan tujuan pembelajaran matematika di atas jelaslah bahwa tujuan tersebut telah sesuai dengan kecenderungan terbaru ( the newest trends ) di bidang pendidikan matematika. Implikasinya, setiap pihak agar tidak ragu-ragu untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh arahan kurikulum yang ada sehingga kelima tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik.

Kesimpulan dan Saran                                                                                                                                      Tujuan pembelajaran matematika yang ditetapkan Depdiknas sudah sesuai dengan kecenderungan terbaru, yang meliputi kemampuan atau kompetensi: (1) memahami konsep matematika, (2) menggunakan penalaran, (3) memecahkan masalah, (4) mengomunikasikan gagasan, dan (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Pendekatan terbaru seperti Pendidikan Matematika Realistik ataupun Pembelajaran Berbasis Pemecahan Masalah merupakan pendekatan atau pembelajaran yang mendukung pencapaian tujuan di atas.

Pada akhirnya, berdasar beberapa kesimpulan di atas, ada dua saran yang dapat diajukan, yaitu:

  1. Menjadi keharusan para guru matematika untuk memfasilitasi siswanya agar mereka dapat meningkatkan kemampuan berpikirnya. Namun mengubah kebiasaan guru ke arah yang dituntut kurikulum tidaklah mudah. Yang dapat dilakukan PPPPTK Matematika maupun Perguruan Tinggi maupun lembaga lain adalah menyusun dan menerbitkan buku-buku pelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, dalam arti buku yang mendukung pembelajaran yang lebih menyenangkan, aktif, kreatif, efisien, dan efektif.
  2. Pembelajaran matematika seperti yang dituntut kurikulum tidak akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan jika soal-soal pada ujian tidak menunjangnya. Alasannya, ke arah mana soal ujian menuju, ke arah situlah proses pembelajarannya. Soal-soal TIMSS dan PISA seharusnya dapat dijadikan acuan penyusunan soal ujian yang lebih kontekstual.Jadi, dengan usaha keras semua pihak, diharapkan pada masa-masa yang akan datang bangsa ini akan mampu bersaing dengan bangsa lain. Hal ini hanya akan terjadi jika proses pembelajaran di kelas telah sesuai dengan tuntutan kurik