Whatsapp: +62813-9247-2500 (English) / 0813 7222 2565 (Indonesia) terapibatam@gmail.com

Budaya diet makan untuk menguruskan tubuh dari berbagai negara

Tahukah kamu metode diet di setiap negara berbeda-beda. Orang Thailand misalnya. Mereka suka mengonsumsi cabai untuk membantu menurunkan berat badan. Setiap negara memiliki budaya dan aturan yang berbeda-beda. Satu di antaranya tentang masalah diet.

Sementara orang Belanda suka bersepeda untuk menurunkan berat badan. Dilansir dari laman rd.com, 5 metode menurunkan berat badan dari seluruh dunia.

1. Thailand

Aceng Fikri (19), pedagang sayur melayani pembeli yang berbelanja cabai rawit domba di Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa (3/7/2018). Memasuki pekan ketiga pascalebaran, harga cabai rawit domba di pasaran masih tinggi berkisar di harga Rp 58.000 - Rp 60.000 per kilogram. Tingginya harga tersebut dipengaruhi oleh pasokan yang masih minim. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)

Makanan khas Thailand termasuk yang paling pedas di dunia. Cabai meningkatkan metabolisme tetapi manfaat nyata dari makanan ini adalah membuat makan kamu lebih lambat, kata James Hill, PhD, mantan Presiden American Society for Nutrition.

“Makan lebih lambat adalah strategi penurun berat badan yang baik, dan membuat makanan pedas adalah cara mudah untuk melakukannya. ”

2. Brasil

Alasan mengapa banyak dari mereka memiliki tubuh ideal karena kebiasaan makan dengan nasi dan kacang. Sebuah studi dalam jurnal Obesity Research menemukan bahwa diet yang terdiri dari beras dan kacang-kacangan mampu menurunkan risiko kelebihan berat badan sekitar 14 persen. Selain itu juga dianggap menstabilkan kadar gula darah.

3. Polandia

Orang Polandia biasanya menghabiskan hanya 5 persen dari anggaran keluarga mereka untuk makan di luar. Selain untuk menghemat uang, kebiasaan makan di rumah juga lebih sehat. “Orang yang tidak memasak di rumah cenderung makan makanan yang kurang sehat dan mengandung lebih banyak kalori ketimbang makanan rumahan,” kata jurnalis dan aktivis Michael Pollan.

4. Belanda

Jumlah Sepeda (18 juta) melebihi jumlah orang (16,5 juta) di Belanda. 54 persen pemilik sepeda Belanda menggunakannya untuk kegiatan sehari-hari, seperti berbelanja dan bepergian ke tempat kerja. Rata-rata orang Belanda mengayuh 541 mil per tahun.

Lampu lalu lintas di bagian Amsterdam bahkan disinkronkan dengan kecepatan sepeda. Coba gunakan sepeda untuk pulang-pergi hari itu atau hanya untuk urusan di dekat rumah.

5. Rusia

Hampir 51 persen penduduk di Rusia memiliki taman. Orang-orang Rusia suka menanam sayuran dan buah sendiri. Kebiasaan ini membuat pola makan mereka lebih bergizi. “Tidak banyak yang bisa kamu tanam di kebun yang akan membuat kamu gemuk,” kata Dr. Hill.


 

Ketahuilah apa itu Bintitan

Ketahuilah apa itu Bintitan

Bintitan atau yang dalam bahasa medis disebut hordeolum adalah kondisi ketika bintil menyakitkan yang mirip jerawat atau bisul tumbuh di tepi kelopak mata. Sebagian besar bintitan hanya muncul pada salah satu mata. Kondisi ini juga umumnya tidak berdampak buruk pada kemampuan penglihatan pengidap.

Bintitan biasanya terjadi di kelopak mata bagian luar, tapi terkadang juga bisa muncul di bagian dalam. Bintil yang tumbuh di bagian dalam lebih menyakitkan daripada yang tumbuh di luar.

Gejala-gejala Bintitan

Indikasi bintitan mudah terdeteksi dari tumbuhnya benjolan merah yang mirip bisul pada kelopak mata. Gejala-gejala lain yang menyertai kondisi ini meliputi:

  • Mata berair.

  • Mata atau kelopak mata yang memerah.

  • Kelopak mata yang bengkak dan terasa nyeri.

Hampir semua kasus bintitan tidak membutuhkan penanganan medis khusus dan bisa sembuh dengan nya sendiri. Meskipun begitu, risiko komplikasi tetap ada. Karena itu, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke dokter jika bintitan yang Anda alami tidak menunjukkan tanda-tanda membaik setelah 2 hari dan pembengkakan menyebar hingga ke bagian lain wajah, seperti pipi.

Penyebab dan Faktor Risiko Bintitan

Penyebab utama bintitan adalah bakteri stafilokokus. Contoh infeksi akibat bakteri yang dapat memicu bintitan adalah infeksi yang terjadi pada akar bulu mata, kelenjar minyak, dan kelenjar keringat.

Bakteri stafilokokus biasanya hidup pada kulit manusia tanpa menyebabkan penyakit. Namun risiko bintitan akan meningkat apabila kita menyentuh mata dengan tangan yang kotor. Selain itu, terdapat sejumlah faktor risiko lain yang meliputi:

  • Menggunakan kosmetik yang sudah kedaluwarsa.

  • Tidak membersihkan kosmetik ketika akan tidur.

  • Memakai lensa kontak yang tidak steril atau tangan Anda tidak bersih saat memasangnya.

  • Mengidap peradangan pada kelopak mata atau blefaritis, terutama tipe kronis. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau komplikasi akibat penyakit kulit rosaseae.

Pengobatan Bintitan

Sebagian besar bintitan bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7 hingga 20 hari. Bintitan akan sembuh setelah pecah dan mengeluarkan nanah. Meski demikian, jangan pernah memencet atau memecahkan benjolan bintitan sendiri karena dapat memicu penyebaran infeksi. Tunggulah sampai benjolan pecah secara alami.

Terdapat langkah-langkah sederhana yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi gejala serta ketidaknyamanan karena bintil tersebut. Beberapa di antaranya adalah:

  • Menjaga kebersihan mata, misalnya dengan menghindari pemakaian kosmetik untuk sementara.

  • Kompres air hangat selama 5 sampai 10 menit. Mengompres kelopak mata dengan air hangat sebanyak 2-3 kali sehari dapat mengurangi rasa nyeri sekaligus mempercepat kesembuhan.

  • Jangan memakai lensa kontak. Hindari lensa kontak sampai bintitan sembuh.

  • Analgesik. Anda bisa mengonsumsi analgesik atau obat pereda sakit jika dibutuhkan.

Apabila bintitan tidak kunjung sembuh dan rasa nyeri bertambah parah, Anda sebaiknya berobat ke dokter. Langkah penanganan yang umumnya dilakukan adalah mengeluarkan nanah agar tekanan pada mata bisa berkurang.

Meski jarang, penggunaan antibiotik mungkin akan dianjurkan. Terutama jika Anda juga mengalami komplikasi lain, seperti kalazion (kista yang disebabkan oleh tersumbatnya salah satu kelenjar pada kelopak mata) atau selulitis preseptal (infeksi pada jaringan di sekitar mata).

Pencegahan Bintitan

Menjaga kebersihan mata adalah langkah terpenting agar terhindar dari bintitan. Proses tersebut dapat kita lakukan melalui langkah-langkah sederhana sebagai berikut:

  • Jangan menggosok mata. Tindakan ini dapat memicu iritasi dan berpindahnya bakteri ke mata.

  • Lindungi mata Anda dengan senantiasa mencuci tangan sebelum menyentuh mata atau memakai kacamata pelindung saat membersihkan rumah agar terhindar dari debu.

  • Jika Anda memakai lensa kontak, cuci dan sterilkan sebelum digunakan. Pastikan Anda tidak lupa mencuci tangan sebelum memasangnya.

  • Perhatikan kosmetik yang Anda gunakan. Hindari kosmetik yang kedaluwarsa, bersihkan dandanan pada mata sebelum tidur, dan buanglah kosmetik untuk mata yang pernah Anda gunakan sebelum dan sewaktu mengidap bintitan.

  • Segera tangani infeksi atau inflamasi pada kelopak mata dengan seksama.

source: alodokter,wikipedia


 

Peliharalah jengotmu, karena ada banyak Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh Anda

Peliharalah jengotmu, karena ada banyak Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh Anda

Tahukah kamu bahwa memelihara Jengot itu memiliki dampak positif bagi tubuh kita? Memang dewasa ini apabila kita mempunya jengot banyak orang awam akan bercap bahwa kita teroris dan orang jahat, tapi itu tidaklah perlu dihiraukan karena ada berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh kita loh.

Berikut ini beberapa manfaat jenggot untuk kesehatan:

1. Melindungi Kulit dari Paparan Sinar UV

Menurut penelitian para ahli di Universitas Southern Quensland menyatakan bahwa seorang pria yang memiliki atau memelihara jenggotnya, resiko terpapar sinar UV lebih rendah. Oleh karena jenggot tersebut, cahaya UV sulit menembus kulit wajah. Anda akan selangkah lebih aman dari ancaman terkena kanker kulit.

2. Memperlambat Keriput Pada Kulit Wajah

Hal tersebut tidak mengherankan karena jenggot mampu melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Kulit yang sering terpapar sinar matahari akan cepat kusam dan kemudian keriput. Lain halnya jika anda memiliki jenggot. Wajah keriput dan garis halus penuaan akan teratasi.

3. Terlihat Lebih Jantan

Jenggot yang rapi dan terawat menjadi nilai lebih bagi pria. Dengan jenggot tersebut ia akan terlihat lebih jantan, macho dan maskulin. Tak jarang banyak wanita yang mendambakan seorang berjenggot untuk mendampingi hidupnya.

4. Mencegah Berbagai Macam Penyakit seperti Asma

Baik jenggot maupun Kumis dapat mencegah hal yang dapat memicu terjadinya asma. Sebelum masuk ke dalam hidung, udara yang mengandung polusi akan disaring terlebih dahulu oleh jenggot maupun kumis. Keduanya merupakan saringan alami yang dapat mencegah terjadinya flu ataupun asma.

5. Mencegah Jerawat

Eits jangan salah ! Jenggotmu juga dapat berfungsi sebagai pencegah jerawat. Jerawat dapat terbentuk ketika pori-pori wajah tersumbat, dan hal ini dapat menyebabkan terbentuknya komedo. Jika dalam keadaan berjerawat, jangan sekali-kali mencukur jenggot anda. Hal ini dikarenakan mencukur dapat memperparah keadaan kulit yang sedang meradang karena berjerawat.

6. Mencegah Kulit Kering

Berada diruangan ber AC atau di sekitar daerah pegunungan seringkali membuat kulit anda kering. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan bagi pria yang memiliki jenggot. Pasalnya, kulit disekitar jenggot akan terus terjaga kelembabannya karena terlindungi oleh rambut jenggot tersebut.

7. Mencegah Kanker

Seperti dilansir dalam Healtmeup pada September 2014, matahari memiliki kandungan ultraviolet yang sangat tinggi yang dapat menyebabkan terjadinya kanker pada kulit. Jika anda membiarkan jenggot anda tumbuh, maka resiko terkena kanker kulit akan berkurang. karena jenggot akan melindungi sebagian wajah anda


Google Bikin Teknologi Yang Bisa Mempredeksi Kematian Terbukti 95% Akurat

Google Bikin Teknologi Yang Bisa Mempredeksi Kematian Terbukti 95% Akurat

 Google baru-baru ini menciptakan kecerdasan buatan yang memprediksi kematian seseorang. Bahkan, akurasinya mencapai 95 persen. Seperti dilansir laman Futurisme, Senin, 18 Juni 2018, disebutkan studi ini telah terbit dalam jurnal Nature.

Para peneliti Google menggunakan data dari 216 ribu pasien dewasa di dua rumah sakit di Amerika Serikat. “Kami mengolah berbagai data, mulai dari hasil klinis, kualitas perawatan (readmissions), pemanfaatan fasilitas rumah sakit, dan diagnosa penyakit pasien,” tulis tim dalam jurnal.

Tim Google menggunakan algoritma medical brain untuk membangun kecerdasan buatan tersebut. Algoritma ini juga pernah digunakan untuk memprediksi kematian seorang pasien kanker payudara berdasarkan 175 ribu data milik pasien tersebut. Dalam studi kala itu, hasilnya memang sangat akurat.

Dalam jurnal tim menyebut bahwa metode ini 10 kali lebih akurat ketimbang metode diagnosa tradisional. Apabila akurasi diagnosa manusia hanya mencapai 9,3 persen, prediksi kecerdasan buatan bisa mencapai 93-95 persen.

Tentu, tim menekankan, kecerdasan buatan ini dibikin bukan untuk menakut-nakuti. Sebaliknya, ini bisa dijadikan rujukan untuk para tenaga medis agar bisa membuat penanganan yang efektif.

Meski terdengar sangat canggih, tapi tidak sedikit pihak yang pesimistis tentang hal tersebut. American Medical Association, misalnya, yang meragukan gabungan antara teknologi dan bidang kesehatan tidak akan langsung berjalan mulus.

“Terutama pada transparansi dan bebas dari bias,” tulis mereka dalam sebuah pernyataan.

Beda lagi halnya dengan Mikhail Varshavski, dokter perawatan keluarga. Dia sangsi akan privasi data yang digunakan. “Siapa yang akan memiliki semua data-data pasien tersebut?” ujarnya.

“Saya cemas, ini malah akan menguntungkan banyak perusahaan ketimbang pasien itu sendiri,” kata dia. “Perlu ada pengawasan yang ketat.”

soure: Nature,Futurism,The Independent


Mengapa kesehatan tubuh penting untuk karir?

Mengapa kesehatan tubuh penting untuk karir?

Ada sejumlah pertanyaan terkait pola hidup sehat yang diajukan kepada para responden secara online. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain mengenai kebiasaan sarapan di pagi hari dan faktor pemicu stres. Kesimpulan yang bisa ditarik dari survei tersebut adalah mayoritas responden sebenarnya menyadari pentingnya kesehatan tubuh namun belum sepenuhnya menerapkan pola hidup sehat.

Memang, tuntutan pekerjaan mungkin membuat kita bekerja overtime. Namun kita harus menyiasatinya disesuaikan dengan kondisi kita masing-masing. Hal paling penting adalah jangan sampai terlambat makan dan cukup minum air putih.

Coba Anda lihat riwayat cuti sakit Anda dalam setahun ini ke departemen HR Anda atau lewat HR info system jika kantor Anda telah memilikinya. Anda cuti sakit satu hari? Dua hari? Atau tujuh hari atau bahkan 14 hari? Jika terlalu banyak, sepertinya kadar profesionalisme Anda patut dipertanyakan bukan?.

Kita sering mendengar atau membaca tentang profesionalisme dalam bekerja. Segalanya tentang melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan keahlian dan prosedur, bersikap solutional dalam menghadapi berbagai masalah teknis pekerjaan, mampu menjaga hubungan dan kerjasama yang baik dengan tim atau kolega, menjalin hubungan yang baik dengan klien dan sebagainya.

Namun ada salah satu aspek profesionalisme yang sebetulnya penting yang jarang dibahas, yaitu menjaga kesehatan tubuh. Menurut pendapat saya, menjaga kesehatan tubuh dengan menjalani pola hidup sehat sama pentingnya dengan seorang karyawan yang merawat keilmuan dan keahliannya dengan mengikuti sejumlah pelatihan, seminar atau pun workshop.

Baiklah, pertama-tama saya hendak membagikan informasi mengenai sebuah survei yang dinamakan Jakarta Professional Health Index 2015 yang dilakukan oleh sebuah brand suplemen terkenal. Survei tersebut menemukan bahwa hanya ada 50% profesional (dalam hal ini karyawan/pegawai) yang menerapkan pola hidup sehat. Padahal 96% responden yakin bahwa kesehatan sangat berpengaruh pada performa kerja.

Begini, tubuh kita sudah dirancang sempurna oleh Tuhan. Sehari-hari kita beraktivitas (sekolah, bekerja) selama sekira delapan hingga sembilan jam per hari. Jika Anda bekerja, aktivitas harian itu belum termasuk sekian jam lembur atau lama perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya.

Waktu istirahat kira-kira memerlukan delapan jam setiap harinya. Ini agar tubuh sempurna melakukan metabolisme secara alami, mengganti sel-sel tubuh yang rusak dengan sel-sel baru, membuang racun-racun dari apapun yang kita konsumsi, dan sebagainya. Setelah menjalani tidur malam dengan sempurna, ketika bangun tubuh rasanya segar dan siap beraktivitas kembali sepanjang hari.

Itu adalah gambaran idealnya. Kenyataannya jarang sekali karyawan yang memiliki waktu istirahat seideal itu. Dalam survei tahun 2015 itu, yang rasanya masih cukup valid di tahun 2018 ini, menyebutkan ada sepertiga responden bekerja hingga 10 jam setiap hari. Hal ini dapat memicu stres yang rentan mempengaruhi kesehatan.

Survei itu juga menyebutkan bahwa faktor pemicu stres lainnya yaitu beban pekerjaan, tekanan dari atasan ataupun kolega dan yang terbesar adalah kemacetan lalu lintas (sekali lagi, responden survei ini adalah profesional yang bekerja di Jakarta).

Sekedar sharing, saya pernah punya pengalaman bekerja overtime dimana saya dan sejumlah rekan kerja saya harus menginap di kantor hingga tiga hari nonstop tanpa pulang. Ini karena tekanan pekerjaan dimana waktu itu mendekati tenggat waktu pekerjaan yang telah disepakati dengan klien perusahaan tempat saya bekerja.

Selang satu atau dua hari kemudian ketika bekerja malam hari di kantor, perut saya mual dan terasa nyeri. Saya meminta pulang ke atasan saya dan segera mengunjungi dokter. Dokter mendiagnosa saya mengalami infeksi saluran pencernaan, membuat saya harus bed rest di rumah selama beberapa hari. Nampaknya tekanan pekerjaan menjelang deadline membuat kadar asam lambung saya meningkat.

Jika punya riwayat penyakit tertentu, ada baiknya untuk mengenalinya. Pantangan makanan atau minuman harus benar-benar dihindari. Sebagai contoh jika memiliki kadar kolesterol dalam darah yang tinggi, maka mengonsumsi hanya makanan rebus adalah tindakan bijak. 

Jika gula darah meningkat, sebaiknya menghindari makanan berkadar gula tinggi. Karena jika mengonsumsinya maka tubuh akan terasa lemas atau menderita kesemutan yang sudah pasti akan mengganggu aktivitas dan performa kerja.

Berbicara tentang makanan, menu makan sehari-hari perlu menjadi perhatian. Sarapan sangat penting. Jarang atau tidak pernah sarapan, atau sarapan air putih saja membuat tubuh kekurangan kalori yang diperlukan untuk bekerja dan berpikir jernih. 

Makan siang dengan menu junk food yang asal kenyang tanpa memperhatikan kandungan gizi makanan lambat laun berdampak kurang baik terhadap kondisi kesehatan. Begitu pula jika mengonsumsi makanan yang seharusnya menjadi pantangan.

Ketika akhir pekan, kadar profesionalisme seorang karyawan bisa diukur dengan kegiatan yang dipilih. Jika melakukan aktivitas berlebihan, dikhawatirkan kondisi tubuh lelah ketika kembali bekerja di hari Senin. Terkadang saking lelahnya, malah jatuh sakit.

Bila karyawan jatuh sakit umumnya perusahaan telah menyediakan asuransi kesehatan. Misalnya BPJS Kesehatan dimana ini bersifat mandatory atau wajib. Ada pula perusahaan yang memberikan asuransi kesehatan tambahan yang berlaku untuk karyawan dan anggota keluarganya. 

Jika tidak ada asuransi, ada sebagian perusahaan yang memberikan fasilitas reimbursement atau penggantian biaya berobat dengan pagu tertentu. Pada intinya, umumnya perusahaan telah berupaya menjamin aspek kesehatan karyawannya.


Sumber: Google

Tahukah kamu bahwa Musim Panas Bikin Kinerja Otak Melambat?

Tahukah kamu bahwa Musim Panas Bikin Kinerja Otak Melambat?

Waspadalah terhadap musim panas menurut peneliti Harvard dalam jurnal PLOS Medicine mengungkapkan paparan panas dapat mempengaruhi kemampuan kognitif dengan memperlambat kekuatan berpikir Anda.

Untuk keperluan studi, tim peneliti melakukan riset selama 12 hari di tengah-tengah gelombang panas di Boston, Massachusetts, selama musim panas 2016. Tim menguji dan membandingkan dua kelompok peserta, yakni 24 siswa yang tinggal di gedung berpendingin udara (AC) dan 20 siswa yang tinggal di gedung tanpa fasilitas AC.
“Sebagian besar penelitian tentang efek panas pada kesehatan telah dilakukan terhadap populasi yang rentan, seperti lansia (lanjut usia), menciptakan persepsi bahwa populasi umum tidak berisiko dari gelombang panas,” kata Jose Guillermo Cedeño-Laurent dari Harvard TH Chan School of Public Health.

Setiap hari, peneliti meminta partisipan mengikuti dua tes menggunakan smartphone mereka. Pertama mengukur kecepatan kognitif dan kontrol hambatan dengan meminta mereka mengidentifikasi warna kata-kata yang muncul.
Lalu, menilai kecepatan kognitif dan memori kerja dengan menghadirkan masalah matematika dasar.
Hasil tes menunjukkan kemampuan berpikir siswa yang tidak tinggal di lingkungan ber-AC 13 persen lebih lambat dibandingkan dengan mereka yang tinggal di lingkungan ber-AC.

“Mengetahui risiko di antara populasi yang berbeda sangat penting mengingat bahwa di banyak kota, seperti Boston, gelombang panas diproyeksikan meningkat karena perubahan iklim,” ujar Cedeño-Laurent.
Namun banyak yang telah mendorong cara-cara alternatif untuk menghadapi gelombang panas. Beberapa ahli menyarankan orang-orang secara sederhana memoderasi penggunaan perangkat pengendali suhu.
“Mengatur termostat sedikit lebih tinggi pada musim panas dan sedikit lebih rendah di musim dingin dapat bermanfaat bagi lingkungan serta kesehatan,” ucap Dr Stan Cox, ilmuwan senior di The Land Institute di Salina, Kansas, seperti dilansir Medical Daily.

source: Medical Daily